Langsung ke konten utama

PEMBELAJARAN DARING, MASALAH ATAU SOLUSI

Wabah penyakit Coronavirus menimbulkan kekhawatiran serius bagi sistem pendidikan global. Upaya untuk menahan penyebaran COVID-19 mendorong terjadinya  penutupan sekolah di lebih dari 100 negara di seluruh dunia. Penutupan sekolah akibat COVID-19 menyebabkan lebih dari satu miliar pelajar tidak menerima pendidikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa COVID-19 berdampak buruk pada pendidikan seperti terganggunya proses belajar mengajar, dan penurunan akses ke fasilitas pendidikan dan penelitian (Onyema et al., 2020). Pada kondisi pandemi COVID-19 banyak pendidik dan siswa yang mengandalkan teknologi untuk memastikan pembelajaran online yang berkelanjutan. Namun, pembelajaran online terhalang oleh infrastruktur yang buruk termasuk masalah jaringan, listrik, dan kurangnya keterampilan digital (Rashid & Yadav, 2020). Kebijakan pemerintah mengenai pelaksanaan program pendidikan selama pandemi juga sangat berpengaruh terhadap manajemen sekolah dan proses pembelajaran di dalam kelas (Ball, 1993).

Pembelajaran online yang selama ini dilakukan nyatanya telah menimbulkan masalah baru terkait tingkat stress siswa. Hasil penelitian menunjukkan adanya kaitan antara tingkat stress dengan kegiatan pembelajaran jarak jauh (Putri et al., 2020). Di beberapa Negara kebijakan pembelajaran tatap muka dilakukan untuk menanggulangi masalah stress pada anak. Di sisi lain adapula Negara yang tetap menutup sekolah dan mengalihkan pembelajaran dengan metode daring. Di beberapa Negara dengan fasilitas pendidikan dan kesehatan yang memadai dilakukan pembelajaran tatap muka dengan protokol kesehatan. Meskipun beberapa Negara kembali menutup proses belajar mengajar di dalam kelas. Tetapi ada pula Negara yang bersikukuh melakukan pembelajaran tatap muka di masa pandemi COVID-19, misalnya di Swedia dan Jerman. Hal ini bisa dipahami mengingat fasilitas pendidikan dan kesehatan Negara tersebut termasuk sangat baik. Selain itu tingkat literasi masyarakat sudah sangat baik sehingga sosialisasi dan penerapan protokol kesehatan menjadi lebih mudah. Sementara di Negara-negara dengan fasilitas pendidikan dan kesehatan yang belum memadai kebanyakan pembelajaran dilakukan secara online meskipun dianggap tidak efektif. Metode ini dipilih untuk menghindari lonjakan kasus COVID-19 yang tidak bisa ditangani oleh tenaga medis dan kesehatan.

Kebijakan pengelolaan sekolah terpengaruh akibat terjadinya pandemi COVID-19. Proses manajemen sekolah yang terdiri dari perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pengendalian dan evaluasi menjadi tidak optimal (Enclave & Kalkaji, 2012). Kemajuan pengetahuan, teknologi, informasi, dan fasilitas yang berbeda-beda di setiap Negara akan menyebabkan kemampuan beradaptasi yang berbeda pula. Menarik untuk diteliti perbedaan pada sekolah-sekolah di berbagai Negara dalam mengelola proses belajar mengajar pada masa pandemi. Negara-negara dengan sistem pendidikan yang sudah maju memilih untuk tetap melakukan pembelajaran tatap muka di kelas seperti di Jerman, Swedia, dan Denmark.

Pembelajaran tatap muka sepertinya belum memungkinkan untuk dilaksanakan di Indonesia. Fasilitas pendidikan yang belum memadai, bahkan beberapa sekolah jumlah siswanya melebihi kapasitas sekolah, fasilitas kesehatan yang juga belum memadai jika terjadi lonjakan kasus COVID-19, serta tingkat literasi masyarakat yang rendah menjadi penyebab pembukaan sekolah masih belum dapat dilakukan. Oleh karena itu, pemerintah melakukan optimalisasi vaksinasi agar aktivitas masyarakat termasuk pembelajaran di sekolah dapat dilakukan kembali.

Akhirnya, perlu disadari bahwa pembelajaran pada masa pandemi memang belum seoptimal saat kondisi normal, teknologi nyatanya belum bisa mengakomodasi seluruh kebutuhan proses pembelajaran, maka sampai saat ini pembelajaran daring sebenarnya bukan solusi, tetapi tidak ada pilihan lain. Begitu pula blended learning, meskipun banyak penelitian mendukung konsep ini, akan tetapi nyatanya belum sebaik pembelajaran tatap muka, atau mungkin masih terdapat kesalahan dalam penerapan pembelajaran blended learning sehingga belum optimal.

Sumber:

Ball, S. J. (1993). Education policy, power relations and teachers’ work. British Journal of Educational Studies, 41(2), 106–121. https://doi.org/10.1080/00071005.1993.9973954

Enclave, N., & Kalkaji. (2012). Educational Management. New Delhi: USI Publications.

Putri, R. M., Oktaviani, A. D., Setya, A., Utami, F., Addiina, A., & Nisa, H. (2020). Hubungan Pembelajaran Jarak Jauh dan Gangguan Somatoform dengan Tingkat Stres Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta The Relationship of Distance Learning and Somatoform Disorders with Stress Levels of UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Students. Indonesian Journal of Health Promotion and Behaviour, 2(1), 38–45.

Onyema, E. M., Obafemi, F., Sen, S., & Sharma, A. (2020). Impact of Coronavirus pandemic on education. Journal of Educational and Practice, 11(13), 108–121. https://doi.org/10.7176/JEP/11-13-12

Rashid, S., & Yadav, S. (2020). Impact of Covid-19 pandemic on higher education and research impact of Covid-19 pandemic on higher education and research. Indian Journal of Human Development, 1–4. https://doi.org/10.1177/0973703020946700

 

Komentar